Perbedaan pigmen klorofil a dan klorofil b

1. Rumus kimia:

klorofil a C55 H72 O5 N4 Mg

dan klorofil b C55H70O6N4 Mg

2. Gugus pengikat:

Klorofil a CH3

Klorofil b CH

3. Cahaya yang diserap:

Klorofil a menyerap cahaya biru-violet dan merah.

Klorofil b menyerap cahaya biru dan oranye dan memantulkan cahaya kuning-hijau.

4. Absorpsi maksimum

Klorofil a pada λ 673 nm

Klorofil b pada λ 455-640 nm

5. Klorofil a paling banyak terdapat pada Fotosistem II

Klorofil b paling banyak terdapat pada Fotosistem I

 

 

literatur:

  • Stryer, L. 1995. Biokimia. Vol.2. E/4 Terj. Dari: Biochemistry 4/E. Oleh Sadikin, M & Zahir, S.S. dkk. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
  • Lakitan, B. 1993. Fisiologi Tumbuhan. Jakarta.
  • Darmawan, J. & Baharsjah, J. 1983. Dasar-Dasar Ilmu Fisiologi Tanaman.
  • Campbell, N.A., J.B. Recce, & L.G. Mitchell. 2003. Biologi. Edisi ke-5 Terj. Dari: Biology. 5th ed. Oleh Manalu, W. Jakarta. Penerbit Erlangga.

Lahan Pasang Surut

Lahan rawa pasang surut memiliki potensi yang besar dan prospek pengembangan yang baik, serta merupakan salah satu pilihan strategis sebagai areal produksi pertanian guna mendukung ketahanan pangan nasional. Reklamasi atau pengembangan lahan rawa pasang surut untuk pertanian telah dilakukan pemerintah sejak tahun 1970-an. Pada awal reklamasi, sistem jaringan tata air yang dibangun masih merupakan sistem jaringan terbuka dengan fungsi utama untuk drainase. Pengaturan tata air sepenuhnya masih bergantung pada kondisi alam, sehingga kemampuan pelayanan tata air masih sangat rendah. Pada sistem jaringan terbuka, tipe luapan air pasang menjadi pertimbangan utama dalam penerapan sistem usahatani. Dengan dibangunnya infrastruktur pengendali air (pintu air), maka beberapa pokok persoalan teknis mulai dapat dipecahkan, namun dalam pelaksanaannya masih terhambat oleh kondisi yang beragam di lapangan.

Berbagai pemikiran dan penelitian terus dilakukan dalam upaya peningkatan produksi pertanian dan indeks pertanaman (IP). Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan air merupakan kunci keberhasilan dalam pengembangan pertanian lahan rawa pasang surut. Pengelolaan air dapat mengendalikan kondisi muka air tanah di petak lahan yang fluktuatif. Namun demikian, pengelolaan air masih terkendala oleh kondisi infiastruktur pengendali air yang belum memadai. Sebagian besar jaringan tata air di daerah reklamasi rawa pasang surut masih belum dilengkapi dengan infrastruktur pengendali air yang memadai. Tanpa pintu air, terutarna di saluran tersier, maka pengendalian muka air tanah di petak lahan akan sulit dilakukan. Selain itu, teknik yang diterapkan juga masih bergantung pada pengamatan muka air tanah secara langsung di lapangan, yaitu dengan membuat sumur-sumur pengamatan. Meskipun memiliki akurasi yang tinggi, namun pengamatan secara langsung memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang besar. Informasi yang diperoleh juga terbatas pada titik pengamatan dan jangka waktu pengamatan tertentu. Oleh karena itu, perlu dibangun suatu model penduga muka air tanah, sehingga kondisi muka air tanah di petak lahan dapat diketahui secara cepat melalui parameterparameter model sebagai prediktor.

Penelitian bertujuan untuk: 1) Mempelajari karakteristik lahan rawa pasang surut menurut kondisi hidrotopografi lahan; 2) Pemodelan muka air tanah pada lahan rawa pasang surut: membangun model penduga muka air tanah di petak tersier, menduga kedalaman muka air tanah di petak tersier, dan membangun skenario pengaturan tata air untuk pengendalian muka air tanah di petak lahan; serta 3) Membangun strategi pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan pada lahan rawa pasang surut untuk mendukung peningkatan produksi pertanian dan indeks pertanaman (IP).

Penelitian lapangan telah dilakukan selama 24 bulan, yaitu dari bulan April 2006 hingga Maret 2008. Lokasi penelitian berada di daerah reklamasi rawa pasang surut, yaitu di petak tersier 3 P8-12s dan petak tersier 3 P6-3N Delta Telang I, serta di petak tersier 3 P10-2s Delta Saleh. Ketiga lokasi tersebut terletak di Kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Pemilihan lokasi didasarkan atas perbedaan kondisi hidrotopografi lahan, yaitu lahan tipe Ah3 (P8-12S), tipe BIC (P6-3N), dan lahan tipe C/D (PI 0-2s).

Hidrotopografi lahan merupakan perbandingan relatif antara elevasi lahan dengan ketinggian muka air di saluran. Lahan tipe A selalu terluapi oleh air pasang, baik pasang besar (terjadi pada musim hujan) maupun pasang kecil (terjadi pada musim kemarau), sedangkan lahan tipe B hanya terluapi oleh air pasang besar saja. Lahan tipe C tidak terluapi oleh air pasang, baik pasang besar maupun pasang kecil, tetapi muka air tanah di petak lahan masih dipengaruhi oleh fluktuasi air pasang. Pada lahan tipe D, selain tidak terluapi air pasang, muka air tanah juga tidak terpengaruh oleh fluktuasi air pasang.

Tanpa irigasi, surnber air utama pada lahan rawa pasang surut berasal dari air hujan dan air pasang di saluran. Pemasukan air ke petak lahan dengan memanfaatkan potensi air pasang dapat dilakukan pada lahan tipe A dan B, sedangkan pemasukan air pada lahan tipe C dan D sulit dilakukan karena permukaan lahan relatif lebih tinggi dibandingkan muka air pasang di saluran. Kedalaman muka air tanah pada lahan tipe C dan D dapat dipertahankan dengan teknik retensi air.

Pengendalian muka air tanah pada lahan rawa pasang surut merupakan suatu proses kunci yang hams dilakukan dengan tepat melalui pengelolaan air, baik di tingkat makro maupun rnikro. Pengelolaan tata air mikro akan menentukan secara langsung kondisi lingkungan bagi pertumbuhan tanaman. Dalam pengelolaan air, setiap petak tersier merupakan satu unit sistem pengelolaan air. Tanpa infrastruktur pengendali air, teknik pengelolaan air pada lahan rawa pasang surut dilakukan secara gravitasi dengan memanfaatkan potensi luapan air pasang ke lahan. Teknik ini sangat bergantung pada kondisi hidrotopogafi lahan, sehingga kemarnpuan pelayanan tata air masih sangat rendah. Pada jaringan tata air yang dilengkapi dengan pintu air, terutama di tingkat tersier, maka pengelolaan air seperti pemasukan air, drainase, dan retensi air dapat dilakukan dengan baik sehingga sistem usahatani yang diterapkan dapat optimal.

Pemodelan muka air tanah merupakan salah satu upaya untuk mendukung pengelolaan air, terutama di tingkat mikro. Model penduga muka air tanah di petak tersier lahan rawa pasang surut telah dapat dirumuskan. Dengan model tersebut, maka tinggi muka air tanah pada jarak x dari saluran (h(x)) dapat diduga melalui beberapa parameter model, yaitu: tinggi muka air di saluran tersier (hw), curah hujan (R), evapotranspirasi (ET), konduktivitas hidrolik tanah (K), jarak antar saluran tersier (2s), dan lebar saluran (l).

Hasil simulasi menunjukkan bahwa model yang dibangun dapat menduga kedalaman muka air tanah di petak lahan dengan hasil yang cukup baik. Proporsi keragarnan kedalaman muka air tanah yang dapat dijelaskan oleh model yaitu sebesar 89,5% hingga 98,7% dengan galat baku pendugaan 0,021-0,042 meter. Model penduga muka air tanah yang dibangun memiliki sensitivitas tinggi terhadap parameter tinggi muka air di saluran tersier. Perubahan yang terjadi pada h, akan menyebabkan terjadinya perubahan pada h(x) dengan besaran yang sama. Sementara itu, pengaruh parameter R dan ET terhadap perubahan h(x) relatif kecil. Perubahan h(x) oleh R atau ET yang cukup nyata hanya terjadi pada lahan yang letaknya relatif jauh dari saluran.

Skenario pengaturan tata air untuk pengendalian muka air tanah di petak lahan telah dibangun dalam penelitian ini berdasarkan model penduga muka air tanah yang telah dihasilkan. Kondisi muka air tanah di petak lahan dapat dikendalikan melalui pengaturan tinggi muka air di saluran tersier. Selanjutnya, strategi pengelolaan sumber daya dam dan lingkungan pada lahan rawa pasang surut yang ditekankan pada aspek pengembangan sistem usahatani dan pengendalian lapisan pint dibangun melalui teknik pengendalian muka air tanah.

Pada pertanian lahan rawa pasang surut, tanaman akan tumbuh dan berkembang dengan baik apabila kedalaman muka air tanah dapat diatur sesuai dengan zona perakaran tanaman, dan pirit yang ada di dalam tanah tidak teroksidasi. Penman muka air tanah hingga di bawah lapisan tanah yang mengandung pirit akan menyebabkan terjadinya oksidasi pirit yang menghasilkan senyawa sulfat. Asam sulfat bersifat racun, sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman. Oksidasi pirit dapat dikendalikan dengan menekan kandungan oksigen yang tersedia di dalam tanah, yaitu dengan mengatur kedalaman muka air tanah.

Secara teknis, pengendalian muka air tanah juga dapat meningkatkan indeks pertanaman (IP) pada lahan rawa pasang surut. Pada lahan tipe A, usahatani padi dapat dilakukan 2 kali dalam setahun, potensi luapan air pasang cukup mendukung ketersediaan air bagi tanaman pada MT TI. Kondisi yang sama juga dapat dilakukan pada lahan tipe B, namun untuk mendukung ketersediaan air pada MT I1 perlu dilakukan retensi air. Pada lahan tipe C dan D, usahatani padi sulit dilakukan 2 kali dalam setahun, sebab sumber air yang utama hanya berasal dari air hujan, sedangkan potensi luapan air pasang tidak dapat menjangkau lahan. Kegiatan usahatani yang dapat dilakukan pada MT I1 yaitu tanaman palawija. Untuk MT 111, kegiatan usahatani palawija dapat dilakukan pada semua tipe lahan. Namun demikian, pemasukan dan retensi air untuk mendukung ketersediaan air bagi tanaman hams memperhatikan kualitas air, karena pada musim kemarau dapat terjadi intrusi air asin.

Agar kondisi muka air tanah dapat mendukung sistem usahatani, maka perlu dibuat panduan pengoperasian pintu air di saluran tersier sesuai dengan sistem usahatani yang diterapkan. Penelitian lanjutan tentang sistem telemetri dan rekayasa sistem kontrol (bangunan pengendalian air) di saluran tersier dapat melengkapi model dan teknik pengendalian muka air tanah yang telah dibangun.

Selanjutnya, keberhasilan dan keberlanjutan pengembangan pertanian lahan rawa pasang surut hams didukung dengan infiastruktur pengendali air yang memadai, operasi dan pemeliharaan jaringan dengan penguatan kelembagaan P3A (Perkumpulan Petani Pemakai Air), serta pengenalan dan implementasi sistem usahatani. Peningkatan kemampuan dan pemberdayaan, serta partisipasi masyarakat perlu dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai sosialisasi dan pelatihan, baik dari aspek teknis maupun non teknis.

Pengaturan Tata Air di Lahan Pasang Surut.pdf

Hosting Indonesia

Hama Penyakit Kakao

Teknologi biofob pada prinsipnya memanfaatkan kerja mikroogranisme untuk meningkatkan kesuburan tanah, mencegah dan mengendalikan hama ataupun penyakit, serta menstimulasi tanaman untuk mencapai produksi yang optimal. Pemanfaatan teknologi ini dapat mengurangi penggunaan pupuk atau pestisida kimiawi.

Ternyata teknologi biofob juga bisa diterapkan pada tanaman kakao untuk mengendalikan hama dan penyakit utama. Usaha pengendalian hama/penyakit tersebut dilakukan dikombinasikan dengan sistem PHT (pengendalian hama terpadu). Adapun pengendalian hama dan penyakit tersebut dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Penggerek Buah Kakao (PBK)

Pengendaliannya dilakukan dengan :

karantina; yaitu dengan mencegah masuknya bahan tanaman kakao dari daerah terserang PBK;

  1. pemangkasan bentuk dengan membatasi tinggi tajuk tanaman maksimum 4m sehingga memudahkan saat pengendalian dan panen;
  2. mengatur cara panen, yaitu dengan melakukan panen sesering mungkin (7 hari sekali) lalu buah dimasukkan dalam karung sedangkan kulit buah dan sisa-sisa panen dibenam;
  3. penyelubungan buah (kondomisasi), caranya dengan mengguna-kan kantong plastik dan cara ini dapat menekan serangan 95-100 %. Selain itu sistem ini dapat juga mencegah serangan hama helopeltis dan tikus.;
  4. Menggunakan pestisida organic OrgaNeem dan Siori dengan dosis 3 – 5 ml/l setiap 2 minggu

Hama Helopeltis

Pengendalian yang efektif dan efisien sampai saat ini dengan insektisida pada areal yang terbatas yaitu bila serangan helopeltis <15 % sedangkan bila serangan >15% penyemprot-an dilakukan secara menyeluruh.

Selain itu hama helopeltis juga dapat dikendalikan secara biologis, menggunakan semut hitam. Sarang semut dibuat dari daun kakao kering atau daun kelapa diletakkan di atas jorket dan diolesi gula, atau pestisida organic yaitu Siori dan OrgaNeem

Hama & Penyakit Kakao.pdf

Pertanian Organik

Pertanian organik (Organic Farming) adalah suatu sistem pertanian yang mendorong tanaman dan tanah tetap sehat melalui cara pengelolaan tanah dan tanaman yang disyaratkan dengan pemanfaatan  bahan-bahan organik atau alamiah sebagai input, dan menghindari penggunaan pupuk buatan dan pestisida kecuali untuk bahan-bahan yang diperkenankan ( IASA, 1990).

Produk organik adalah  produk (hasil tanaman/ternak yang diproduksi melalui praktek-praktek yang secara ekologi, sosial ekonomi berkelanjutan, dan mutunya baik (nilai gizi dan keamanan terhadap racun terjamin).  Oleh karena itu pertanian organik tidak berarti hanya meninggalkan praktek pemberian bahan non organik, tetapi juga harus memperhatikan cara-cara budidaya lain, Baca entri selengkapnya »

Perluasan Lahan Kelapa Sawit

perluasan lahan perkebunan kelapa sawit hutan di Jambi makin terancam. Kebutuhan kebun sawit yang tidak sedikit menyebabkan hutan-hutan di Jambi makin berkurang.Seharusnya Pemerintah Daerah di Jambi selaku pihak yang memiliki kebijakan dalam masalah Tata Kelola menjadi pengontrol dalam hal ini supaya hutan yang menjadi habitat berbagai jenis satwa termasuk mamalia Besar seperti Harimau Sumatera(Panthera tigris sumatrae) dan Gajah Sumatera(Elepant maximus) ini tetap terjaga.

Pedoman_Teknis Perluasan_Areal_Perkebunan_TA.2010.pdf

Peran Cacing Tanah Dalam Peningkatan Kesuburan Tanah

Cacing tanah secara umum dapat dikelompokkan berdasarkan tempat hidupnya, kotorannya, kenampakan warna, dan makanan kesukaannya antara lain epigaesis, anazesis, endogaesis, coprophagic, dan arboricolous.

Cacing tanah  sering disebut “perut bumi” karena semua mikroorganisme menguntungkan ada di perut cacing tanah. Karenanya, cacing tanah berperan penting dalam mempercepat proses pelapukan bahan organik sisa. Dengan kemampuannya memakan bahan organik seberat badannya sendiri setiap 24 jam, cacing tanah mampu mengubah semua bentuk bahan organik menjadi tanah subur. Kemampuan inilah yang dimanfaatkan petani untuk memperbaiki kesuburan lahan pertaniannya.
Cacing tanah hidup di sawah, tegalan, pinggiran sungai, timbunan sampah, atau di tempat pembuangan sisa-sisa makanan dari dapur. Pendeknya, di tempat yang bahan organiknya tinggi. Saat itu penulis sangat terkesan melihat bahwa di mana ada cacing tanah, di sana tanahnya subur (gembur dan berwarna gelap), tanaman tumbuh sehat, hewan pemakan cacing tanah yang hidup di sekitarnya seperti bebek, tikus, kodok, burung, dan ayam juga terlihat sehat. Bahkan persentase bertelurnya bebek waktu itu sangat tinggi.Kondisi ini mengalami perubahan semenjak peralihan sistem pertanian dari tradisional ke konvensional. Penggunaan bahan kimia sintetis dalam pertanian sejak tahun ‘70-an memulai masa “pembantaian” cacing tanah. ketika pupuk urea ditebar, cacing tanah menggelepar-gelepar ke pinggir untuk menyelamatkan diri tetapi tidak sampai di pinggir sudah mati.

Cacing tanah sangat sensitif terhadap bahan kimia. Sehingga cacing tanahlah yang paling awal lenyap dari dalam tanah dan selanjutnya diikuti oleh hilangnya kehidupan lain di dalam tanah. Dampak buruk pun perlahan-lahan mulai penulis alami. Yang paling terasa kala itu adalah daya bertelur bebek menurun, terputusnya beberapa rantai makanan, rusaknya kesuburan tanah yang berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, perubahan ekosistem, dan terakhir—yang masih terasa hingga kini—adalah menurunnya kesehatan tanaman, hewan, dan manusia.

E-BOOK PERAN CACING TANAH KELOMPOK ENDOGAESIS.pdf

Bahan Organik

Mengenal Bahan Organik Lebih Jauh..!!

Kata “bahan Organik” atau biasanya disingkat dengan kata BO sering kita dengar bahkan ucapkan dalam kaitannya dengan masalah kehutanan. Bahan organik sendiri merupakan bahan-bahan yang dapat diperbaharui, didaur ulang, dirombak oleh bakteri-bakteri tanah menjadi unsur yang dapat digunakan oleh tanaman tanpa mencemari tanah dan air. Bahan organik tanah merupakan penimbunan dari sisa-sisa tanaman dan binatang yang sebagian telah mengalami pelapukan dan pembentukan kembali. Bahan organik demikian berada dalam pelapukan aktif dan menjadi mangsa serangan jasad mikro. Sebagai akibatnya bahan tersebut berubah terus dan tidak mantap sehingga harus selalu diperbaharui melalui penambahan sisa-sisa tanaman atau binatang. Baca entri selengkapnya »

Hubungan Berat TBS dengan Ca Mg

Klik Link di bawah ini untuk melanjutkan membaca.,,!!

E-BOOK hubungan berat TBS dengan Ca Mg.pdf

Hubungan Curah Hujan Dengan Produksi TBS

Pertumbuhan dan produksi tanaman sangat bergantung pada interaksi antara parameter iklim, tana, tananaman dan pengelolaannya, dengan kata lain produksi tanaman dengan sistem pengelolaan tertentu merupakan fungsi dari kualitas/karakteristik lahan dan iklim sekitarnya.

Produktivitas perkebunan kelapa sawit sangat dipengaruhi dengan kualitas lahan dan iklim, yaitu antara lain : jenis tanah, kedalaman tanah, tinggi tempat, pH tanah, curah hujan, temperatur rata-rata, defisit air (mm/th), kelembaban udara, dan radiasi matahari. Produktivitas perkebunan kelapa sawit berkisar antara 13 (ton/ha/tahun) TBS pada lahan yang sesuai.

E-BOOK Hubungan CH dengan Produksi TBS.pdf

Perbenihan Kelapa Sawit

Perkembangan luas areal perkebunan kelapa sawit yang begitu pesat saat ini diprediksikan telah mencapai 6,5 juta ha pada tahun 2007 (deptan 2007), tentunya hal tersebut harus dibarengi dengan penyediaan benih sebagai salah satu sub sistem utama dalam agribisnis kelapa sawit yang harus tersedia tepat waktu. Bila dilihat dari luas areal yang harus dibuka saat ini diprediksi pembukaan areal untuk perkebunan kelapa sawit mencapai 700.000 – 800.000 ha setiap tahunnya dengan kebutuhan benih siap salur mencapai 140 – 160 juta butir. Hal ini telah mendorong beberapa perusahaan swasta untuk berinvestasi secara serius dalam usaha ini, karena selain untuk memenuhi kebutuhan sendiri Baca entri selengkapnya »

« Older entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.